Saat membaca judul di atas, teman-teman mungkin bertanya mengapa kampus disebut demikian. Bukankah yang sering disebut sebagai pusat budaya adalah kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan atau kota-kota besar lainnya yang dipenuhi oleh orang-orang dengan latar budaya yang berbeda? tetapi ternyata tidak sebatas itu saja. Bila ditinjau kembali, pengertian pusat budaya adalah tempat berkumpul atau bertemunya banyak orang dengan latar budaya yang berbeda dalam jangka waktu yang lama. Pengertian tersebut mungkin telah menjawab pertanyaan mengapa kampus disebut sebagai pusat budaya.
Kampus adalah tempat mahasiswa belajar, berkreasi bahkan meraih mimpi. Dalam melakukan hal-hal tersebut mereka pasti punya caranya masing-masing dan cara yang mereka tunjukkan menggambarkan budaya mereka. Mungkin ada bahkan banyak mahasiswa yang cara belajarnya pasif dalam arti mereka datang ke kampus hanya untuk duduk dan mendegar apa yang dibicarakan oleh dosen, meskipun tidak sepenuhnya mereka mengerti.
Namun sebaliknya banyak juga mahasiswa yang budaya belajarnya aktif. Setiap ada kesempatan, dia mencoba bertanya pada dosen tentang hal-hal yang tidak diketahuinya atau bila memungkinkan, mahasiswa dapat berdiskusi diluar jadwal kuliah / hal-hal demikian sangat sering kita lihat didunia kampus. Budaya yang ditunjukkan setiap mahasiswa selalu berbeda.
Memang wajar kampus disebut sebagai pusat budaya. Yang mana mahasiswanya tidak terbatas berasal dari daerah universitas itu berada. Bahkan Universitas Cendrawasih dan Universitas Syahkuala sebagai universitas paling timur dan barat Indonesia, mahasiswanya majemuk. Bila demikian kita dapat membayangkan kemajemukkan budaya yang ada di universitas negeri yang ada di jawa yang selama ini menjadi favorite anak muda Indonesia. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan satu kursi saja. Saat mereka berkomunikasi satu sama lain, mereka dapat mengetahui asal daerah teman mereka dengan mengenali logat mereka. Contohnya adalah logat Batak yang dikenal keras. Logat ini pun termasuk budaya.
Saat masih SMA, mungkin kita ditempatkan orang tua di sekolah dekat rumah dengan alasan kenyamanan dan dianggap belum cukup dewasa untuk merantau. Lain halnya saat kita menjadi seorang mahasiswa. Kita dapat mencari universitas terbaik di Indonesia yang kita suka. Otomatis kita juga harus rela berpisah dengan orangtua. Karena saat itulah kepribadian kita dibentuk. Di kampus kita dapat bertemu dengan teman-teman yang berbeda budayanya sehingga kita dapat saling memahami tanpa harus menjadi seperti budaya orang lain.
Satu salam lain menunjukkan cirinya baik dalam berpakaian, berbicara, berpikir dan berprilaku. Yang masing-masing menggambarkan perilaku.