Kali ini, kita akan disuguhkan sebuah tulisan dari Sekretaris Umum HPMIG Bandung, Nisa Mardhotillah Saida yang juga merupakan nmahasiswa fakultas hukum Universitas Padjajaran Bandung.
"Persahabatan bagai kepompong"
Mungkin sepenggal lirik lagu di atas dapat menggambarkan hubungan persahabatan antara RI dan Maroko.
Banyak hal yang dapat menjadikan terjalinnya kerja sama antar suatu negara dengan negara lainnya, yaitu dari bidang pendidikan dan ekonomi, tetapi bidang kebudayaan menjadikan hubungan bilateral suatu negara lebih erat dan awet, karena berada dalam keadaan santai dan lebih ke ajang mempererat tali silaturahmi antar kedua negara.
Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal manusia. Sehingga kebudayaan adalah hasil kreasi manusia untuk menjadikan hidup lebih baik. Suatu masyarakat tidak akan lepas dari suatu kebudayaan. Setiap bangsa mempunyai kebudayaan yang berbeda, itulah yang membuat antara suatu bangsa dapat saling mengenal satu sama lain. Namun sering disalah artikan dengan berebedanya suatu kebudayaan berarti berbeda pula pola hidup suatu masyarakat dan suatu bangsa. Padahal kalau kita mengambil sisi positifnya bahwa bermacam-macamnya budaya yang dapat mempersatukan kita, dan menjadikan hidup lebih bervariasi, bukan hanya antar personal tetapi antar bangsa juga, dan ini lebih menguntungkan dari yang kita bayangkan. Mendapatkan pengetahuan yang lebih dari kebudayaan negara lain, dan juga mendapat pengalaman dari kebudayaan negeri sendiri.
Perbedaan kebudayaan inilah yang menjadikan RI dan Maroko menjadi sahabat selamanya. Terbukti sudah lebih dari 50 tahun Indonesia dan Maroko menjalin kerja sama. Kerja sama dalam bidang kebudayaan bermula dari Indonesia turut berpartisipasi Dalam Rangka Festival Teatre International untuk Pemuda ke XI di Taza, Maroko, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Rabat, menampilkan Sendratari Ramayana dengan berbagai macam improvisasi alias sedikit menyimpang dari aslinya Kembali Indonesia turut berpartisipasi aktif di ajang yang sama setahun setelahnya yakni Festival Tetater Internasional untuk Pemuda ke XII yang dilaksanakan di tempat yang sama, lebih tepatnya tanggal 21-23 April 2011. Setelah pada tahun lalu Indonesia menyuguhkan Sendratari Ramayana, kali ini Indonesia menampilkan teater Ande Ande Lumut.
Kemudian pada Festival Music Internattional di Fes, Maroko, Dengan dukungan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Indonesia menampilkan Musik Marawis yang dibawakan oleh Syubbanul Akhyar dari Cirebon, Indonesia. Gaya musik Marawis, warisan budaya sufi Yaman. Sebuah musik di persimpangan musik Arab dan musik Indonesia, segar dan sederhana dalam berekspresi yang terserap dalam music tersebut.
Selain itu untuk memperkenalkan Kebudayaan tradisional Indonesia di kerajaan Maroko, maka Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang bertempat di Rabat, menyelenggarakan workshop ˝Demontration and Training of Indonesian Traditional Batik˝ Duta Besar RI untuk Maroko, Tosari Widjaja dalam sambutannya menyampaikan, bahwa selain wayang dan keris, batik pun telah diakui UNESCO sebagai salah satu kekayaan warisan budaya dunia yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Dan, dengan diadakannya kegiatan seperti ini, diharapkan masyarakat asing di Maroko dapat lebih memahami dan mengetahui keanekaragaman budaya Indonesia.
Dan sekarang kita semua pasti mengenal dengan sebuah film yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata, sebuah film yang menceritakan tentang perjuangan 10 orang anak miskin di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Belitung. Film ini diputar di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Raabat, Maroko bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko. Pemilihan film bertema pendidikan yang cukup populer, merepresentasikan keanekaragaman budaya Indonesia dan mendapat respons positif, dibuktikan dengan hadirnya seluruh pelajar Maroko maupun asing, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dan komunitas kampus sebanyak 400 orang. Selain itu Indonesia juga memperkenalkan makanan dan jajanan khas Indonesia yaitu Risoles dan Mie goreng.
Oleh karena itulah perbedaan kebudayaan seharusnya menjadi pemicu untuk mengembangkan kemampuan masyarakat. Masalah kebudayaan dijadikan sebagai tolak ukur dan sebagai akar persahabatan yang menjadikan suatu negara menjalih hubungan dengan negara lain tetap awet. Itulah yang terjadi anatara Ri dan Maroko.
"Merubah ulat menjadi kupu-kupu"
referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar